Beri aku secangkir kopi dan sejuta asap keniscayaan...

Menjadi "Jutawan" dalam Sebulan dengan Mengemis di Bulan Ramadhan dan Lebaran


Sabtu kemarin, saya berbelanja di sebuah toko kue yang sekaligus toko aneka bahan dan perlengkapan membuat kue terlengkap di salah kota di daerah Banten. Tak seperti biasanya, ada beberapa pengemis yang duduk bersila di depan pintu masuk samping toko itu. Biasanya hanya ada 1 pengemis wanita yang stand by di pintu depan (yang menghadap ke jalan raya). Tapi kali ini yang di”kawal” pengemis justru pintu samping, sebab pintu samping ini yang menuju ke bagian toko yang khusus menjual aneka bahan baku dan peralatan membuat kue, yang dipadati pengunjung saat Ramadhan begini. Menilik penampilannya, pengemis-pengemis itu tampaknya “wajah baru” yang belum biasa mangkal di situ.

Diduga, pengemis berombongan begini ada yang mengorganisir 

Ternyata tak hanya di toko kue saja, siang harinya ketika saya sedang tawar-menawar dengan pramuniaga sebuah toko peralatan kantor, seorang perempuan paruh baya mendatangi kami dan menadahkan tangannya. Cukup heran juga, biasanya disini tak ada pengemis yang berkeliaran, adanya pengemis yang duduk berjajar sepanjang jembatan penyeberangan menuju mall dan di depan mall. Kalau saja dia tak menadahkan tangan, saya tak mengira perempuan itu bermaksud mengemis. Penampilan, postur tubuh dan perkiraan usianya rasanya tak pantas kalau ia mengemis.

Bulan Ramadhan selalu bermunculan pengemis dadakan. Meski ini bukan kota besar, tapi pengemis musiman menjadikannya sasaran operasi selama Ramadhan. Senin pekan lalu, Metro TV menayangkan liputan khusus di Prime Time News : fenomena maraknya pengemis dadakan di bulan Ramadhan hingga Idul Fitri. Penelusuran tim Metro TV mendapati fakta kebanyakan pengemis itu sengaja datang dari berbagai kota, dengan tujuan meraup untung dengan memanfaatkan animo masyarakat untuk bersedekah di bulan Ramadhan. Bahkan ada satu daerah di Jawa Barat, yang penduduknya punya “tradisi” mengemis di Jakarta selama Ramadhan hingga seminggu setelah Idul Fitri. Tradisi itu sudah berlangsung puluhan tahun.

Di bulan Ramadhan, rombongan seperti ini makin banyak terlihat di beberapa tempat yang dianggap strategis misalnya jembatan penyeberangan (

Seorang ibu yang didatangi reporter Metro di rumahnya – usianya di kisaran pertengahan 30-an atau awal 40-an – mengaku sudah 10 tahun menjalani “tradisi” mengemis di Jakarta. Ibu bertubuh agak subur itu sedang menggendong balitanya, mengaku ia baru akan berangkat ke Jakarta tanggal 15 Ramadhan nanti. Kenapa begitu? Karena di saat-saat itu sudah mulai banyak orang kaya yang membagikan zakatnya. Ibu itu memilih momen yang menurutnya bisa menghasilkan banyak uang tanpa perlu berlama-lama di Jakarta. Ketika ditanya dengan siapa ia akan ke Jakarta, ibu itu menjawab “bawa orang buta”. Dari mana orang buta itu didapatnya? “Ya sudah ada di sana” katanya sambil gesturnya menunjuk ke suatu tempat, entah dimana, mungkin di dekat situ. Seorang ibu menggendong balita dan menggandeng orang buta, paduan yang pas untuk menggelitik rasa belas kasihan orang yang melihat, lalu mengucurlah kocek dari tangan mereka.

Berbeda dengan ibu yang diwawancarai di rumahnya, seorang nenek – belum terlalu tua, usianya mungkin di kisaran 60-an tahun – yang ditemui di sebuah warung makan di tepi jalan raya, mengatakan ia akan ke Jakarta untuk memulai tradisi mengemis. Si nenek memilih berada di Jakarta sejak awal Ramadhan. Ditanya berapa penghasilannya mengemis, nenek itu dengan sumringah menjawab setidaknya paling sedikit 300 ribu sehari bisa didapatnya. Nenek itu tak sendiri, bersamanya berkumpul banyak orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, yang sedang menunggu bis yang akan membawa mereka ke Jakarta. Pakaian yang dikenakan si nenek pun cukup bagus, matchingdengan kerudungnya. Sama sekali tak menunjukkan ia orang miskin. Mungkin nanti saat mengemis di Jakarta, nenek itu akan berganti baju lusuh dan sobek di sana-sini demi membuat orang iba. Tak lama, bis yang ditunggu datang. Melihat bentuknya, bis itu cukup bagus dan masih baru. Begitu bis berhenti di depan warung makan, anak-anak berlompatan kegirangan, seolah mereka akan diajak berwisata. Setelah semua penumpang naik, bis itu pun bergerak.

Rp. 300,000,00 sehari – hitungan minimal – kalau si nenek berada di Jakarta sampai seminggu setelah Idul Fitri, maka belasan juta bisa dikantonginya. Mata pencaharian penduduk daerah tersebut sebenarnya sehari-hari bertani. Entah sebagai petani pemilik atau penggarap, yang jelas lahan pertanian di daerah itu masih cukup luas. Mereka tak bisa dikatakan miskin, karena umumnya punya rumah yang layak huni – meski sederhana – pakaian yang dikenakan pun layak dan bukan tak mungkin mereka punya peralatan penunjang kehidupan lainnya seperti televisi dan HP. Apalagi untuk digolongkan sebagai kaum fakir, sangat jauh dari itu. Sebab mereka punya pekerjaan bertani, yang sengaja ditinggalkan selama Ramadhan sampai usai lebaran, demi mengemis di Jakarta.


Meski sudah nenek-nenek begini, penghasilannya bisa lebih gede dari eksekutif muda 


Karena itu, fenomena “pengemis gerobak” yang akan membanjiri Jakarta selama Ramadhan yang disinyalir Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, seperti ditulis merdeka.com, adalah benar adanya. Pengemis gerobak ini adalah satu keluarga yang mengemis dan tinggal di gerobak. Si bapak yang menarik gerobak, sementara anak-istrinya duduk di dalam gerobak. Diduga kelompok pengemis gerobak ini sudah ada yang mengorganisir dan mengatur “distribusi” nya di berbagai wilayah Jakarta. Orang yang tak tahu akan serta merta iba, mengira keluarga itu sepanjang tahun tinggal menggelandang di atas gerobak. Padahal itu pilihan yang mereka ambil sementara waktu, setelah lebaran usai mereka akan kembali ke rumah masing-masing di kampungnya. Bukan tak mungkin hasil mengemis sebulan bisa untuk merenovasi rumahnya.

Di luar bulan Ramadhan saja, penghasilan pengemis di Jakarta terbilang sangat besar, bahkan mengalahkan gaji eksekutif. Temuan petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan mendapati penghasilan rata-rata pengemis di Jakarta mencapai Rp. 750.000,00 sampai Rp. 1.000.000,00/hari. Itu untuk kategori pengemis dengan “tingkat kekasihanan” yang sangat tinggi, semisal pengemis lansia, ibu-ibu menggendong balita, ibu hamil, dll. Sedang pengemis dengan tingkat kekasihanan standar alias biasa saja, bisa meraup uang Rp. 450.000,00 – Rp. 500.000,00 sehari. Anak jalanan denganhanya bermodal tutup botol yang dipaku pada sepotong kayu, setidaknya bisa mendapat Rp. 12 juta rupiah sebulan atau rata-rata Rp. 400.000,00 sehari. Bayangkan kalau yang mendapat Rp. 750.000,00 sampai sejuta perhari, maka penghasilan mereka bisa mencapai 22,5 – 30 juta rupiah sebulan. WOW! Sebuah angka yang menggiurkan.

Tentu sangat jauh bila dibandingkan gaji seorang sarjana fresh graduateyang umumnya di Jakarta gajinya di kisaran 3 juta/bulan. Penelusuran merdeka.com membandingkan gaji eksekutif di Jakarta, yang berkisar 12 – 20 jutaan untuk level manager dan 16 juta bagi seorang kepala cabang sebuah bank. Seorang kepala divisi mencapai 20 juta sebulan. Untuk mencapai posisi-posisi tersebut, tentu tidaklah mudah, butuh waktu bertahun-tahun dengan segala kerja keras dan ketekunan, memenangkan persaingan dengan rekan kerja dan beragam resiko lainnya.


Berpura-pura buntung seperti ini bukan modus baru lagi 

Untuk menjadi pengemis yang bisa memancing rasa iba yang melihat, mereka tak segan-segan melakukan berbagai upaya tipuan, termasuk memakai bantal yang diikat di perut agar dikira hamil. Petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan pernah melakukan pengejaran terhadap pengemis hamil-hamilan ini dan mereka kehilangan jejak karena si ibu “hamil” itu larinya lebih cepat dari petugas. Ada beberapa titik lokasi di Jakarta yang jadi tempat mangkal pengemis hamil, dengan modus membutuhkan biaya untuk melahirkan karena sudah hampir waktunya.

Merdeka.com menghimpun setidaknya ada 8 modus sindikat pengemis untuk menipu warga DKI. Antara lain : mencampur terasi dan obat merah (obat luka) untuk mengundang kerumunan lalat agar memberi kesan luka yang menjadi borok; pura-pura hamil dengan memakai bantal; pura-pura bertangan buntung padahal tangannya diikat dengan tali ke perut; pura-pura menggelandang di gerobak; pura-pura buta padahal mereka dikarunia nikmat untuk melihat dengan sempurna; mengekspliotasi anak-anak untuk mengemis dengan mendandani anak sedemikian rupa agar tampak memelas; pura-pura mendorong lansia yang sedang sakit sampai mendramatisir luka (luka lama yang memang pernah dialami si pengemis, semisal bekas tersiram air panas atau luka bakar, didramatisir sedemikian rupa seolah itu luka baru). Karena itu, Kepala Suku Dinas Sosial DKI mengatakan pada 80% warga Jakarta ditipu oleh pengemis! Karena kebanyakan dari mereka melakukan segala macam taktik tipu daya untuk membuat orang kasihan.

Khusus untuk pengemis anak, termasuk yang dikerahkan saat Ramadhan, tim Metro TV pun sempat mewawancarai “bapak” dari anak-anak yang ditugaskan mengemis. Badannya tegap, tampak masih sangat sehat di usianya yang berkisar 30-an tahun, baju yang dikenakan pun tak tampak lusuh. Ketika reporter Metro TV menanyainya, dengan bangga sambil tersenyum lelaki muda itu katakan bahwa seharian dia hanya duduk di situ, mengawasi “anak-anak”nya agar tak sampai diciduk petugas tramtib. Anak-anak itu yang ditanyai terpisah mengaku mereka disuruh emaknya mencari uang. Ketika reporter Metro memberitahu bahwa anak-anak tak boleh mencari uang begitu, “Kata siapa anak-anak gak boleh cari duit? Boleh kok, kata emak saya. Ini saya disuruh emak saya cari duit”, bantahnya. Anak-anak ini pun terkadang lebih ulet dan bandel dalam melawan Satpol PP.


Anak-anak yang diekploitasi orang tuanya untuk mengemis 

Karena itu, cara terbaik untuk membuat mereka berhenti mengemis adalah dengan tidak memberinya uang, seperti himbauan Dinas Sosial. Sebab, anak-anak yang tertangkap lalu dibina di rumah singgah, disekolahkan, kebanyakan tergiur kembali ke jalanan, karena merasa cari uang di jalanan jauh lebih enak. Bagaimana tak menggiurkan, kalo bermodal perkusi dari tutup botol saja bisa mengantongi ratusan ribu sehari? Sekolah menjadi tak menarik lagi bagi mereka.

Begitupun untuk pengemis yang sengaja datang di bulan Ramadhan dan membanjiri setiap ada event pembagian zakat, lalu pindah ke masjid-masjid pada saat Idul Fitri atau ke pemakaman setelahnya. Jangan memberikan uang pada mereka, agar “panen” tak bisa lagi mereka rasakan sehingga mereka mau kembali menekuni kehidupan yang lebih bermartabat di kampung ketimbang jadi peminta-minta di kota. Orang kaya yang akan menyalurkan zakatnya, lebih baik melalui lembaga/badan amil zakat yang dipercaya, dimana mereka sudah memiliki data kaum fakir dan miskin yang benar-benar berhak untuk dibantu dalam berbagai bentuk program pembinaan yang bermanfaat dan berkelanjutan. Membagikan zakat secara langsung, selain beresiko terjadi chaos akibat saling berebutan, juga berpotensi membuat zakat yang dikeluarkan salah sasaran. Para pengantri zakat yang entah dari mana datangnya itu, kebanyakan bukan orang yang masuk kategori berhak mendapat zakat. Sebagian dari mereka adalah orang-orang bermental miskin, yang sengaja berburu uang sebanyak-banyaknya dengan cara mudah : cukup menadahkan tangan, meski sebenarnya sudah memiliki perkerjaan dan penghidupan yang layak. Orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat hidup yang mereka miliki, serta rela merendahkan martabatnya demi menjadi jutawan dadakan dalam sebulan.


Mengemis sambil membawa nenek-nenek yang diletakkan di bekas kereta dorong seperti ini mudah menggugah rasa kasihan 

Kadang kita butuh cara keras dan tegas untuk mengedukasi sebagian bangsa ini agar bermental tangguh dan tidak membiasakan diri memilih jalan yang “enak” kendati merendahkan martabat dan harga dirinya. Untuk mengikis “tradisi” mengemis, perlu keseriusan banyak pihak, termasuk masyarakat umum, untuk tak membiasakan memberi. Kalau sudah tak ada lagi yang memberi, mereka yang tak punya alternatif lain akan terpaksa ikut program pembinaan Dinas Sosial, sedang yang masih punya peluang untuk berusaha di kampungnya, mau tak mau akan terpaksa pulang kampung dan bekerja di sana, bukan sekedar menadahkan tangan . (Sumber: The Aurora World Indonesia)





0 comments:

Post a Comment - Kembali ke Konten

Next Older Post

Banyak Dibaca:

Menjadi "Jutawan" dalam Sebulan dengan Mengemis di Bulan Ramadhan dan Lebaran